Untuk menguji efek kurkumin, Todung melakukan penelitian di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Jantung Jakarta selama Januari-Juni 2015. Ada 50 orang pasien yang dipasangi stent dalam penelitian. Mereka dibagi dalam dua kelompok. Masing-masing diberi obat aspirin, klopidogrel, statin, dan sejumlah obat yang antara lain untuk mengatasi radang dan pembekuan darah, seperti prosedur penanganan stent biasa.

Hanya, pada kelompok pertama, pasien diberi tambahan kurkumin dengan tingkat kemurnian 98 persen sejak tujuh hari sebelum dan dua hari setelah operasi untuk mengetahui khasiat antiradang zat tersebut. Sebagai pembanding, kelompok kedua hanya mengkonsumsi obat biasa, tanpa diberi kurkumin. Hasilnya diukur pada 24 jam dan 48 jam pertama setelah operasi.

Darah masing-masing pasien diambil untuk diketahui tingkat inflamasi dan stres oksidatifnya. Hasilnya, pada 24 jam pertama, radang dan stres oksidatif masih tinggi. Penurunan mulai terjadi 24-48 jam setelah operasi. Radang dan stres oksidatif pada pasien yang diberi tambahan kurkumin lebih banyak turun dibanding mereka yang hanya mengkonsumsi obat-obatan biasa. Menurut Todung, dengan pengobatan biasa, radang memang bisa ditekan.

Tapi, dengan kurkumin, efek penekanannya jauh lebih bagus. Karena itu, Todung berkesimpulan kurkumin berfaedah mengatasi masalah inflamasi untuk mencegah pembuluh darah mengalami penyumbatan kembali. ”Padahal saya hanya memberikan kurkumin selama sembilan hari. Bagaimana kalau seperti orang Jawa yang mengkonsumsi terus-terusan,” kata Todung. Manfaat kurkumin juga diakui oleh dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular, Idrus Alwi, promotor disertasi Todung.

Pada 2006, Idrus juga melakukan penelitian pada kurkumin. Ia meneliti efek pemberian kurkumin terhadap respons metabolik dan inflamasi pada pasien yang menderita serangan jantung. ”Hasilnya, kurkumin memang bisa mencegah inflamasi,” kata Idrus, yang kini sudah menyandang gelar profesor, Rabu pekan lalu.

Tapi, untuk mencegah inflamasi ini, bukan sembarang kunyit atau temulawak yang bisa dikonsumsi. Semua harus terukur dosis dan aturan pakainya. Tak bisa hanya asal menenggak jamu-jamuan. Menurut Todung, harus dibedakan antara Curcuma dan kurkumin. Kurkumin adalah kandungan yang ada dalam rimpang kunyit dan temulawak.

Sedangkan Curcuma adalah nama Latin untuk rimpang-rimpangan. Curcuma perlu diekstrak untuk mendapatkan kurkumin murni. Ketua Program Pascasarjana Herbal Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Abdul Mun’im mengatakan kandungan kurkumin dalam kunyit dan temulawak paling hanya berkisar tiga persen.

Padahal, untuk menjadi obat, kemurnian perlu ditingkatkan sampai 95 persen. ”Untuk itu harus diekstrak,” ujarnya Selasa pekan lalu. Namun, kata Abdul, kalau tak digunakan sebagai obat, kedua rimpang-rimpangan ini bisa diminum untuk mengatasi berbagai macam masalah dalam badan. Misalnya, kunyit berfungsi mengatasi nyeri haid; menangani masalah pencernaan, seperti maag dan diare; serta meningkatkan nafsu makan. ”Banyak sekali manfaatnya.”.

Website : kota-bunga.net

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *