“Menyiapkan lingkungan yang aman biasanya terkait dengan bagaimana menyiapkan kondisi peralatan di rumah yang sangat berbahaya dan dapat mengancam keselamatan jiwa anak,” ujar Alfa. Misal, mengamankan setop kontak dengan alat penutup, memberi pagar pada tangga, menyimpan hal-hal yang memiliki kabel-kabel listrik seperti charger ponsel, dan meletakkan di tempat yang aman dimana anak tidak dapat meraihnya. Kita juga perlu memilih mainan berdasarkan usia anak.

Baca juga : tes toefl Jakarta

Untuk batita, jangan menggunakan mainan yang memiliki bagian-bagian kecil sehingga dapat dimasukkan ke dalam mulut anak. “Biasanya memang sudah tercantum dalam kemasan mainan, diperuntukkan usia berapa. Tapi seberapa banyak Mama Papa memerhatikan hal ini ketika membeli mainan? Maka itu perlu dibiasakan teliti memilih,” lanjut Alfa. Alfa mengatakan, soal keamanan ini bukan perkara main-main. Pasalnya, ia pernah menerima pasien, seorang ibu yang syok berkepanjangan atas kematian batitanya. “Anaknya meninggal dunia di kolam renang.

Kejadian nahas ini terjadi di rumah si anak itu sendiri. Banyak faktor yang mengakibatkan kecelakaan ini.” Menurut Alfa, setelah ditelusuri, antara ibu dan pengasuh si anak terjadi miskomunikasi. Si ibu merasa anaknya bersama si mbak, sementara si mbak di dapur merasa yakin si anak ada bersama ibunya. Padahal, si anak sedang mengeksplorasi halaman dan tercebur ke dalam kolam renang di rumah yang tidak memiliki pagar pembatas. Memang, itu adalah kolam dangkal untuk anak-anak.

Bukan sekali-dua kali si anak bermain di kolam tersebut dengan pendampingan orangtua atau pengasuhnya. Tetapi kali itu, walaupun dangkal, mungkin si anak terpeleset dan kesulitan untuk berdiri tegak sehingga akhirnya ia tenggelam. “Nyatanya, air sedangkal apa pun, jika batita tidak dapat mengangkat wajahnya dari air, tetap berbahaya bagi jiwanya.”

Alfa juga menekankan perlu berhati-hati dengan barang-barang yang tampaknya tidak berbahaya tetapi sebenarnya berpotensi menjadi bahaya bagi batita. Misalnya, “Bedcover atau selimut yang terlalu tebal, terutama untuk anak yang postur tubuhnya kecil, karena bisa menyebabkan kematian jika ia terkurung terlalu lama di dalam selimut tersebut sehingga kesulitan bernapas,” ujarnya.

Sumber : pascal-edu.com

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *