Categories
Berita

Perempuan di Indonesia

Perempuan di Indonesia – SEBAGAI salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia, setiap langkah dan kebijakan yang diambil terkait dengan nasib perempuan akan berdampak pada masa depan Indonesia. Raden Ajeng Kartini memulai perjuangan pada awal abad ke-19 agar perempuan Indonesia diberi kesempatan yang sama. Ia percaya pendidikan adalah bekal kehidupan yang lebih baik. Dua abad sejak perjuangan Kartini, akses pendidikan masih menjadi masalah di beberapa daerah di Indonesia. Meski begitu, tak sedikit perempuan di Indonesia yang menonjol. Mereka mampu melihat halangan sebagai tantangan dan mengubahnya menjadi kesempatan. Di ketinggian Gunung Lanny Jaya, Rosa Dahlia jatuh cinta. Nona 29 tahun ini memberikan jiwanya untuk gunung, lembah, dan tawa anak-anak di Distrik Lualo, Kabupaten Lanny Jaya, Papua. Rosa menyediakan oasis di daerah yang bahkan belum tersentuh listrik, sebuah perpustakaan yang nyaman, tempat anak-anak singgah dengan gembira. ”Mereka datang ke sini sore sampai malam, membaca buku atau sekadar bermain,” kata perempuan asli Magelang, Jawa Tengah, ini. Rosalinda Delin menyalakan harapan di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Bidan 44 tahun ini setangguh batu karang.

Dia berkampanye mengubah tradisi turun-temurun yang disebut hasai hai, yakni ”mengasapi” ibu dan bayi yang baru dilahirkan selama 42 hari. Sebuah tradisi yang membuat ibu dan bayi semakin rentan terpapar infeksi pneumonia dan dehidrasi parah. Sulitnya kondisi alam, dan reaksi penolakan masyarakat tak membuat Rosalinda gentar. ”Saya bekerja untuk masyarakat,” katanya. Kartika Jahja, 35 tahun, berkiprah bersama band Tika & The Dissidents di Jakarta. Penyanyi indie ini menggunakan daya kreativitas seni sebagai jalur menyuara kan kepedulian sosial. Tika mengabaikan godaan bermusik di jalur pop yang jauh lebih gemerlap. Beragam isu disoroti Kartika, dari hak-hak buruh, pelecehan seksual, diskriminasi, sampai perjuangan ibu-ibu Kendeng melawan masuknya industri semen yang menggusur gua-gua karst di Rembang, Jawa Tengah. May Day dan Tubuhku Otoritasku adalah lagu-lagu yang lantang menyuarakan keberpihakan Tika.

Seperti Kartini, gadis Jawa yang menulis surat kepada orang-orang berpengaruh di Belanda pada akhir abad ke-19, ketika budaya tulis masih jauh di awang-awang, Rosa, Rosalinda Delin, dan Kartika Jahja adalah perempuan pemberani. Mereka berani menembus batas, mengambil jalan terjal dan sering kali sepi. Benar-benar sepi. Alam, gender, nilai-nilai konvensional masyarakat, dan regulasi bukan tembok penghalang bagi perempuan-perempuan ini. Mereka menyalakan api harapan tentang Indonesia yang lebih baik. Majalah Tempo merayakan peringatan Hari Kartini, pekan ini, dengan menampilkan para perempuan tangguh tersebut. Tim redaksi, dengan Ayu Prima Sandi sebagai pemimpin proyek, menjaring namanama dari beragam profesi. Setelah melakukan sejumlah verifikasi, kami memperoleh 65 nama dari berbagai kelompok masyarakat. Usia mereka maksimal 45 tahun, karena kami ingin mendorong dan memberi ruang kepada para perempuan muda. Angka itu juga kami tetapkan sebagai penanda usia majalah Tempo yang pada 6 Maret lalu memasuki 45 tahun. Radar yang kami miliki memang tak bisa menjangkau semua bidang dan seluruh wilayah Indonesia. Kami sadar, pastilah masih banyak perempuan muda hebat yang ada di luar daftar kami. Mereka yang jauh dari jangkauan hiruk-pikuk media sosial, surat kabar, dan televisi. Ada dua tahap seleksi yang kami lakukan. Pertama, melalui survei di media sosial. Publik kami ajak menyeleksi 65 menjadi 45 nama. Hanya dalam sepekan, 672 orang mengikuti survei online ini. Tahap kedua adalah penjurian. Kami memilih sembilan perempuan muda andalan di berbagai bidang. Kami mengundang Alissa Wahid (Koordinator Nasional GusDurian), Putri Izzati (Kibar, kurator Zilliun—sebuah inisiatif menjaring anak-anak muda berbakat), Johana Kusnadi (Manajer Komunikasi Kreavi.com), Puti Ayu Amatullah (Manajer Media Sosial di Kibar), dan Mardiyah Chamim yang mewakili kalangan internal Tempo. Diskusi hangat mewarnai proses penjurian. Keberagaman bidang dan pencapaian 65 perempuan muda ini sungguh membesarkan hati. Dari perancang busana, guru, saintis, bidan, dokter, pengacara, penyanyi, penari, praktisi teknologi, pengusaha, sampai atlet.

”Seneng banget melihat variasi nama ini,” kata Johana Kusnadi, ”Ada yang masih 15 tahun tapi sudah berkarya hebat.” ”Betul, memang hebat para perempuan ini,” ujar Alissa Wahid. Namun prestasi saja tidak cukup. Dampak pada masyarakat adalah poin yang menjadi pertimbangan dewan juri. ”Bidan Rosalinda, misalnya, dia mengubah begitu banyak hal,” kata Alissa. Ibu dan bayi lebih sehat tentu akan menjadikan kualitas generasi yang jauh lebih baik. Akhirnya, setelah tiga jam diskusi yang hangat, dewan juri memutuskan sembilan perempuan sebagai champion di bidang masing-masing.

Ini sebenarnya hanya membedakan porsi tulisan dalam liputan khusus: para juara ditulis dalam dua halaman, dan yang lainnya dengan porsi yang lebih kecil. Mereka yang menjadi ”juara” adalah Yosmina Tapilatu (Bidang Sains dan Keilmuan), Kartika Jahja (Bidang Seni dan Budaya), Sheila Agatha (Bidang Industri Kreatif dan Entrepreneur), Yusniar Amara (Bidang Hobi dan Olahraga), Rosa Dahlia (Bidang Pendidikan), Rosalina Delin (Bidang Kesehatan), Leonika Sari (Bidang Teknologi Informasi dan E-commerce), Selly Martini (Bidang Penegakan Hukum), dan Nissa Wargadipura (Bidang Lingkungan). Selain kesembilan perempuan luar biasa tadi, ada satu sosok yang mencuri perhatian dewan juri: Katyana Azlia Wardhana, gadis 20 tahun, yang menggulirkan gerakan antirisak atau bullying Sudah, Dong. Gerakan yang dirilis pada Juli 2014 ini sekarang telah memiliki 900 relawan, yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Dewan juri sepakat memilih Katyana sebagai perempuan pilihan juri. Seusai penjurian, tim redaksi turun ke lapangan menjumpai para perempuan pilihan Tempo. Sebuah kerja maraton berlangsung, melibatkan belasan reporter dan fotografer di berbagai daerah.

Kartika Jahja ditemui Subkhan Jusuf Hakim di Kedai Kemang. Sheila Agatha, perancang yang karyanya mendunia di Paris Fashion Week, ditemui di apartemennya di Central Park oleh Gustidha Budiartie. Leonika Sari, anak muda pendiri Reblood, singgah ke kantor menghampiri Tito Sianipar. Ayu Prima dan fotografer Nurdiansyah menuju Lualo, Lanny Jaya, Papua, untuk menjumpai Rosa Dahlia. Perjalanan menemui Rosa tidak mudah. Rute WamenaPoga, distrik terdekat sebelum Lualo, ditempuh dua jam dengan bermobil. ”Jalanannya ancur, muntahlah kami di separuh perjalanan,” kata Ayu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *