Ini Dia Pengalaman Berdua Jadi Hebat

pascal-edu.com – Karena itulah saya selalu mengajak anakanak saya untuk mengerjakan beberapa tugas di rumah. Yang gampang-gampang saja. Awalnya saya hanya fokus pada Gladys karena saya anggap Hazel masih terlalu kecil. Namun setelah melihat Gladys mengelap meja atau menyiapkan piring dan gelas saat kami mau makan malam. Hazel ingin ikut-ikutan. Akhirnya mereka pun selalu mengerjakannya berdua. Gladys jadi semangat karena adiknya ikut membantu. ‘Dedek yang lap meja ya… kayak gini nih’ lucu banget melihat mereka saling membantu!”

Serunya Bermain Peran Berdua

YULIE HASUKI BUNDA DARI MAYZA (4,5) “Mayza suka bermain peran. Kalau main sendiri kasihan juga karena dia hanya main sama teddy bear-nya. Dia jadi ibu, trus si boneka jadi anak. Tapi kalau bermain berdua dengan temannya, jadi seru banget. Main perannya bisa beragam. Misal, si teman jadi guru, terus Mayza dan bonekanya jadi murid. Atau si teman jadi ibu, terus Mayza jadi ayah, si boneka jadi anak. Dari situ mulai deh mereka menasehati macammacam ‘Kamu enggak boleh nakal ya. Nanti dimarahin Ayah!’ Lucunya, kalau si teman protes karena Mayza lupa kalau sedang jadi ayah ‘Ih… kamu kok suaranya gitu. Kan lagi jadi ayah!’. Tentu main berdua dengan teman banyak manfaatnya ketimbang kalau Mayza main sendiri. Karena Mayza jadi bisa berinteraksi, bergaul, sekaligus melatih kemampuannya komunikasi nya.”

Bekerja Bersama Merangkai Rel

KATHLEEN MELISSA BUNDA DARI ARKA (4) “Arka biasanya main ber sama temannya di rumah. Permainan favorit mereka adalah merangkai balok atau bermain kereta api. Saat merangkai rel kereta api, me reka pun bekerja sama supaya si kereta api dan relnya bisa cepat selesai. Ada lagi yang mereka pelajari saat bermain berdua, yaitu bersamasama membereskan mainannya setelah selesai. Senang melihat Arka dan temannya bisa bekerja sama lewat bermain.”

Denting Piano & Dawai Biola

SISKA BUNDA DARI SYLVIA (6) DAN SANTI (4) “Saya sejak dulu punya keinginan agar anak-anak pandai bermain musik. Karena itulah semenjak kecil, Sylvia dan Santi sudah saya kenalkan pada alat musik, Sylvia dengan piano dan Santi de ngan biola. Sengaja saya tidak mengenalkan instrumen yang sama agar mereka bisa berduet. Sekarang cita-cita saya tercapai, Sylvia dan Santi sudah beberapa kali diundang untuk konser berdua. Perpaduan dentingan piano dan dawai biola yang mereka mainkan sungguh terdengar indah.”

Mau Dapat SIM A ? Kamu Harus Lulus Sekolah Mengemudi

JAKARTA – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyusun kurikulum pembelajaran untuk sekolah mengemudi resmi di Indonesia. Penyusunan kurikulum itu berkaitan dengan rencana polisi memasukkan sertifikat lulus pendidikan dan pelatihan mengemudi dalam syarat permohonan pembuatan surat izin mengemudi (SIM). Kepala Subdirektorat Pengawalan dan Patroli Jalan Raya, Komisaris Besar Bambang Sentot Widodo, menuturkan ketentuan ini sebenarnya sudah tertuang dalam Peraturan Kepala Polri Nomor 9 Tahun 2012 tentang SIM. Namun implementasi aturan itu belum optimal. Musababnya, kata Bambang, rata-rata pemohon SIM belajar mengemudi secara autodidaktik atau dari teman mereka. Padahal yang mengajarkan belum tentu memiliki kompetensi berkendara yang baik. Hal itu berbeda dengan pelatih di sekolah mengemudi yang dianggap memiliki kompetensi.

“Makanya kami sedang merumuskan kurikulumnya,” ujar Bambang, kemarin. Bambang menjelaskan, kurikulum khusus perlu dibuat karena sekolah mengemudi yang bisa menerbitkan sertifikat lulus pendidikan dan pelatihan secara sah harus mendapat akreditasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Sekolah mengemudi itu, kalau mau dijadikan formal, harus memiliki kurikulum,” Bambang menjelaskan. Dalam standar kurikulum yang tengah digodok, kepolisian akan mencantumkan teori, praktik berkendara, serta penyuluhan ketertiban lalu lintas. Penyuluhan dianggap penting lantaran 80 persen pelanggar lalu lintas kurang memiliki kesadaran untuk tertib di jalan raya. Kondisi emosi dan kejiwaan pengemudi juga kerap menjadi alasan pelanggaran lalu lintas. Bambang mencontohkan beberapa pelanggaran, seperti berkendara di atas trotoar, berhenti di zebra cross, hingga mengabaikan lampu merah. “Padahal dia tahu itu melanggar, tapi karena alasan buruburu atau kepepet jadi melanggar,” kata Bambang. Kepolisian menargetkan penyusunan kurikulum lengkap bakal rampung akhir tahun ini. Warga Jakarta menanggapi beragam rencana kepolisian tersebut. Musa Harun, misalnya, mengatakan persyaratan itu hanya akan mempersulit pemohon SIM.

Sebab, mengikuti sekolah mengemudi memerlukan waktu yang tak sebentar. Berbeda dengan Musa, Arifin Arfian menyatakan mendukung rencana kepolisian. “Setuju saja. Pasti sudah dipertimbangkan,” ucapnya. Bambang memastikan kepolisian tak ingin mempersulit permohonan SIM bagi masyarakat. Pada Juni lalu, kepolisian berencana menambah persyaratan tes psikologi dalam permohonan SIM tapi akhirnya ditunda pelaksanaannya.