Bunda pastilah mendambakan ayah yang luar biasa; yang mau terlibat dalam pengasuhan si kecil. Itu wajar kok. Hanya perlu diketahui, tingkat keterlibatan ayah itu bervariasi. Ada yang proaktif, ada juga yang sama sekali ragu atau takut gagal. Nah, makanya Bunda harus peka melihat kondisi ayah. Menurut Della Psikolog Viera Adella, MPsi, sebisa mungkin ciptakan suasana relaks yang bisa membangun keyakinan pada ayah bahwa mengasuh itu simpel. “Coba deh, berikan peran yang paling kecil saja dulu, misalnya memasangkan kaus kaki si baby.”

Perilaku Bunda dalam mengasuh bayi (terlepas dari profi l ayah yang “peragu dan takut gagal” tadi), sudah memberi kesan bahwa “bayi hanya boleh dekat Bunda!” Benar, enggak? Coba aja lihat kalo lagi nyusuin, bayi akan benar-benar diproteksi oleh Bunda sehingga terkesan “kamu milikku”. “Nah kalau sudah begini, tentu si ayah ‘mati gaya’ doooong… mau ngedeket aja takut. Coba deh Bunda ambil posisi dekat ayah yang lagi baca koran atau nonton TV.

Lalu, minta si ayah memangku si baby sebentar karena Bunda mau ambil sesuatu. Nah, hal-hal yang spontan seperti itu kadang membuat ayah merasa bahwa co-parenting atau kerja sama dalam pengasuhan memang benarbenar ada, enggak cuma teori saja. Menariknya nih Bun, cuma dimintain bantuan seperti itu saja si ayah sudah bangga banget!” jelas Della. Meski begitu, Bunda juga harus sadar bahwa tak selamanya ayah bisa diharapkan mampu ikut terlibat langsung dalam mengasuh, karena yang disebut mengasuh itu tak harus bentuknya ke terlibatan.

Ada yang disebut komitmen dan tanggung jawab. Coba cek lagi, mungkin si ayah belum punya waktu, keyakinan, dan kemampuan untuk memegang bayi secara langsung. Namun dia punya waktu, keyakinan, dan kemampuan untuk memenuhi fasilitas dan materi pendukung belajar si bayi. Ini pun bagus. Yang penting, Bunda harus biasakan mengomunikasikan apa yang berlangsung atas diri si bayi ke ayah, dan mencoba mendiskusikan agar ayah sedikit demi sedikit bisa ikut memberikan ide. “Contoh, saat mau beliin baju si kecil ajaklah ayah untuk memilih.

Tapi jangan kasih pertanyaan yang terlalu ‘luas’ sehingga ayah jadi bingung. Ingat dia bukan penasihat yang serbatahu seluk beluk bayi, jadi batasi pertanyaan dengan pilihan-pilihan yang sudah tersedia. Semisalnya, “Yah, ini ada dua pakaian, menurut Ayah yang mana yang lebih cocok dan pas untuk adek?” Yang jelas, cobalah permudah agar si ayah bisa terlibat dalam pengambilan keputusan-keputusan terkait anak,” papar Della.

Hal lain yang perlu Bunda sadari, setiap pembentukan keterampilan baru termasuk menjadi ayah dibutuhkan proses yang tentunya perlu waktu dan konsistensi. Jadi jangan pesimis dan kecewa dulu kalau reaksi ayah tampak enggan. Bunda perlu mau memberi waktu dan jangan cepat menyerah. Menurut Della, sebaiknya gunakanlah akal sehat, jangan munculkan reaksi-reaksi yang tidak menyenangkan sehingga membuat ayah menjadi antipati.

Untuk anak yang sudah beranjak dibangku sekolah berikan ia pelatihan keterampilan bahasa asing di tempat kursus bahasa Perancis Jakarta yang terbaik.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *