Seperti, merapikan lemari atau mencuci bajunya sendiri saat tidak ada pembantu. Dalam kondisi ini, Ge nerasi Net menjadi lebih mudah tersinggung dan tidak menerima ketika orangtua mengatakan bahwa dulu mereka terbiasa melakukan hal tersebut tanpa bantuan,” jelas Dra. Viera Adella, Psi., MPsi.

Baca juga : Kerja di Jerman

Selain itu, ada kepercayaan pada diri mereka bahwa tidak ada yang tidak mungkin, sehingga mereka merasa ”berhak” untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan. “Ketika anak-anak melihat dengan mudah orangtua mengambil uang lewat ATM, maka tidak heran jika jarang di antara mereka yang paham tentang konsep ‘tanggal tua’ yang dialami orangtuanya. Mereka juga tidak melihat ‘amplop gaji’ orangtua yang kian hari kian menipis seperti yang dialami generasi terdahulu, sehingga penghayatan akan masalah dan situasi yang dialami para orangtua menjadi tidak utuh.

Ironisnya lagi, para orangtua melihat kondisi ini dari sudut pandang bahwa anak-anak generasi digital ini kurang peka dan tidak mau memahami kesulitan mereka,” kata Della. BILA ORANGTUA GAGAL PAHAM Diakui Della, pada beberapa kasus yang ditemuinya, orangtua banyak yang “gagal paham” ketika harus menghadapi perbedaan perilaku akibat dari berkembangnya zaman. Orang-orangtua yang seperti ini akan merasa kesulitan ketika di rumah mereka mencoba untuk tetap memaksakan nilainilai konvensional, dengan tidak mau tahu apa yang berkembang di kehidupan Generasi Net.

Contoh kasus, seorang anak memohon pada ibunya untuk dibelikan gadget baru karena ada aplikasi yang i ngin ia mainkan. Ibu menga takan “Enggak boleh, apa prestasi kamu sampe bisa minta gadget baru?” Si anak merespons dengan sinis “Bunda pelit!” Si ibu mengeluh anaknya sudah kehilang an sopan santun. Untuk memahami situasi ini, perhatikan sebenarnya anak baru sebatas mengajukan “proposal” yang dia pun tahu bahwa akan ada kemungkinan ditolak, karena itu orangtua tak perlu bereaksi berlebihan. Perbedaan yang paling mencolok dengan generasi terdahulu, lanjut Della, “anak-anak zaman dulu” tidak berani dan tidak tega mengajukan permintaan karena memahami kondisi orangtua yang sedang kesulitan. Namun kita perlu mengakui, zaman melahirkan anak-anak yang to the point dalam menyatakan kehendak. Disadari atau tidak, hal ini pun akibat pola asuh kita yang sudah tidak lagi memberikan penjelasan tentang kondisi yang sebenarnya.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *