Categories
Parenting

Memahami Ayah “Luar Biasa” Bagian 2

Ukuran Luar Biasa

Ayah memang hanya lakilaki biasa tetapi ketika lakilaki itu mau dan mampu terlibat dalam merawat dan meng asuh buah hatinya, dia berubah menjadi ayah yang luar biasa. Memang sih, ukuran luar biasa itu pasti berbeda pada tiap Bunda. Menurut Della, ayah yang luar biasa itu semestinya bukan semata-mata dikaitkan dengan apa yang mereka lakukan melainkan juga dampak yang dirasakan keluarga.

Jadi perhatikan apakah dengan peran aktif ayah tersebut terjadi 5 hal berikut ini. ? Semua anggota keluarga merasa “sehat” secara emosi (tidak ada rasa tertekan, ditolak, atau dilecehkan). ? Terjadi hubungan yang saling menghargai antarpasangan dan juga antara orangtua dan anak. ? Relasi yang kian berkualitas antarorangtua. ? Kualitas hubungan bunda-anak dan ayah-anak semakin baik. ? Terjadi perimbangan antara tekanan-tekanan sosial yang dihadapi dan diperolehnya bantuan atau dukungan dari lingkungan sosial terhadap keluarga tersebut. Della juga bercerita tentang sebuah kasus yang pernah ditanganinya. Ini kisah nyata yang menurutnya menarik dan mungkin bisa menjadi inspirasi bunda dan ayah. Begini ceritanya.

Ada sebuah keluarga dengan 5 anak semuanya laki-laki. Si bunda sangat dekat dan lekat dengan anak-anaknya sehingga ia bisa dengan mudah membagi tugas ke mereka semua. Tiap anak kebagian tugas mengurus rumah. Ada yang mengepel lantai, memasak, merapikan kamar, mencuci mobil, membersihkan kamar mandi, dan lain-lain. Digilirlah seperti piket. Sementara, si ayah selalu menunjukkan sikap galak kepada anak-anaknya.

Tak pernah sekali pun ia bicara halus kepada anak-anaknya. Ayah juga punya target tinggi dan selalu menantang anakanaknya agar selalu punya prestasi dan bagus di bidang akademik. Anak-anak ini mengaku sangat takut ketika harus bicara dengan ayahnya, tetapi mereka sangat respek kepadanya karena sang bunda selalu membicarakan hal-hal yang positif tentang si ayah. Ayah yang kasar itu bisa tetap dijaga “image”-nya oleh si bunda dan tentunya anakanak, sehingga tetap menjadi figur yang penting buat keluarga.

Saat ini kelima anak mereka sudah “jadi.” Mereka semua berhasil di sekolahnya. Meski sekarang ayah mereka sudah tiada, kelima anak ini masih tetap mengenang ayah mereka. Bahkan obrolan seputar ayah selalu menjadi topik populer yang dibicarakan oleh anakanaknya. Menarik, kan? Nah, Bunda dukunglah Ayah selalu. Dan buat Ayah, selamat berjuang menjadi ayah yang luar biasa!

Categories
Parenting

Memahami Ayah “Luar Biasa”

Bunda pastilah mendambakan ayah yang luar biasa; yang mau terlibat dalam pengasuhan si kecil. Itu wajar kok. Hanya perlu diketahui, tingkat keterlibatan ayah itu bervariasi. Ada yang proaktif, ada juga yang sama sekali ragu atau takut gagal. Nah, makanya Bunda harus peka melihat kondisi ayah. Menurut Della Psikolog Viera Adella, MPsi, sebisa mungkin ciptakan suasana relaks yang bisa membangun keyakinan pada ayah bahwa mengasuh itu simpel. “Coba deh, berikan peran yang paling kecil saja dulu, misalnya memasangkan kaus kaki si baby.”

Perilaku Bunda dalam mengasuh bayi (terlepas dari profi l ayah yang “peragu dan takut gagal” tadi), sudah memberi kesan bahwa “bayi hanya boleh dekat Bunda!” Benar, enggak? Coba aja lihat kalo lagi nyusuin, bayi akan benar-benar diproteksi oleh Bunda sehingga terkesan “kamu milikku”. “Nah kalau sudah begini, tentu si ayah ‘mati gaya’ doooong… mau ngedeket aja takut. Coba deh Bunda ambil posisi dekat ayah yang lagi baca koran atau nonton TV.

Lalu, minta si ayah memangku si baby sebentar karena Bunda mau ambil sesuatu. Nah, hal-hal yang spontan seperti itu kadang membuat ayah merasa bahwa co-parenting atau kerja sama dalam pengasuhan memang benarbenar ada, enggak cuma teori saja. Menariknya nih Bun, cuma dimintain bantuan seperti itu saja si ayah sudah bangga banget!” jelas Della. Meski begitu, Bunda juga harus sadar bahwa tak selamanya ayah bisa diharapkan mampu ikut terlibat langsung dalam mengasuh, karena yang disebut mengasuh itu tak harus bentuknya ke terlibatan.

Ada yang disebut komitmen dan tanggung jawab. Coba cek lagi, mungkin si ayah belum punya waktu, keyakinan, dan kemampuan untuk memegang bayi secara langsung. Namun dia punya waktu, keyakinan, dan kemampuan untuk memenuhi fasilitas dan materi pendukung belajar si bayi. Ini pun bagus. Yang penting, Bunda harus biasakan mengomunikasikan apa yang berlangsung atas diri si bayi ke ayah, dan mencoba mendiskusikan agar ayah sedikit demi sedikit bisa ikut memberikan ide. “Contoh, saat mau beliin baju si kecil ajaklah ayah untuk memilih.

Tapi jangan kasih pertanyaan yang terlalu ‘luas’ sehingga ayah jadi bingung. Ingat dia bukan penasihat yang serbatahu seluk beluk bayi, jadi batasi pertanyaan dengan pilihan-pilihan yang sudah tersedia. Semisalnya, “Yah, ini ada dua pakaian, menurut Ayah yang mana yang lebih cocok dan pas untuk adek?” Yang jelas, cobalah permudah agar si ayah bisa terlibat dalam pengambilan keputusan-keputusan terkait anak,” papar Della.

Hal lain yang perlu Bunda sadari, setiap pembentukan keterampilan baru termasuk menjadi ayah dibutuhkan proses yang tentunya perlu waktu dan konsistensi. Jadi jangan pesimis dan kecewa dulu kalau reaksi ayah tampak enggan. Bunda perlu mau memberi waktu dan jangan cepat menyerah. Menurut Della, sebaiknya gunakanlah akal sehat, jangan munculkan reaksi-reaksi yang tidak menyenangkan sehingga membuat ayah menjadi antipati.

Untuk anak yang sudah beranjak dibangku sekolah berikan ia pelatihan keterampilan bahasa asing di tempat kursus bahasa Perancis Jakarta yang terbaik.

Categories
Parenting

Ini Dia Pengalaman Berdua Jadi Hebat

pascal-edu.com – Karena itulah saya selalu mengajak anakanak saya untuk mengerjakan beberapa tugas di rumah. Yang gampang-gampang saja. Awalnya saya hanya fokus pada Gladys karena saya anggap Hazel masih terlalu kecil. Namun setelah melihat Gladys mengelap meja atau menyiapkan piring dan gelas saat kami mau makan malam. Hazel ingin ikut-ikutan. Akhirnya mereka pun selalu mengerjakannya berdua. Gladys jadi semangat karena adiknya ikut membantu. ‘Dedek yang lap meja ya… kayak gini nih’ lucu banget melihat mereka saling membantu!”

Serunya Bermain Peran Berdua

YULIE HASUKI BUNDA DARI MAYZA (4,5) “Mayza suka bermain peran. Kalau main sendiri kasihan juga karena dia hanya main sama teddy bear-nya. Dia jadi ibu, trus si boneka jadi anak. Tapi kalau bermain berdua dengan temannya, jadi seru banget. Main perannya bisa beragam. Misal, si teman jadi guru, terus Mayza dan bonekanya jadi murid. Atau si teman jadi ibu, terus Mayza jadi ayah, si boneka jadi anak. Dari situ mulai deh mereka menasehati macammacam ‘Kamu enggak boleh nakal ya. Nanti dimarahin Ayah!’ Lucunya, kalau si teman protes karena Mayza lupa kalau sedang jadi ayah ‘Ih… kamu kok suaranya gitu. Kan lagi jadi ayah!’. Tentu main berdua dengan teman banyak manfaatnya ketimbang kalau Mayza main sendiri. Karena Mayza jadi bisa berinteraksi, bergaul, sekaligus melatih kemampuannya komunikasi nya.”

Bekerja Bersama Merangkai Rel

KATHLEEN MELISSA BUNDA DARI ARKA (4) “Arka biasanya main ber sama temannya di rumah. Permainan favorit mereka adalah merangkai balok atau bermain kereta api. Saat merangkai rel kereta api, me reka pun bekerja sama supaya si kereta api dan relnya bisa cepat selesai. Ada lagi yang mereka pelajari saat bermain berdua, yaitu bersamasama membereskan mainannya setelah selesai. Senang melihat Arka dan temannya bisa bekerja sama lewat bermain.”

Denting Piano & Dawai Biola

SISKA BUNDA DARI SYLVIA (6) DAN SANTI (4) “Saya sejak dulu punya keinginan agar anak-anak pandai bermain musik. Karena itulah semenjak kecil, Sylvia dan Santi sudah saya kenalkan pada alat musik, Sylvia dengan piano dan Santi de ngan biola. Sengaja saya tidak mengenalkan instrumen yang sama agar mereka bisa berduet. Sekarang cita-cita saya tercapai, Sylvia dan Santi sudah beberapa kali diundang untuk konser berdua. Perpaduan dentingan piano dan dawai biola yang mereka mainkan sungguh terdengar indah.”