NAIK tangga bukan pekerjaan yang menyenangkan buat Endang Affandi. Sebab, napasnya seperti mau putus jika melakukan aktivitas ini. ”Saya selalu ngos-ngosan,” kata pria 61 tahun ini, Selasa pekan lalu. Padahal, untuk menuju tempat kerjanya di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, Endang mesti naik kereta dari tempat tinggalnya di Depok, Jawa Barat, kemudian disambung dengan Transjakarta.

Tangga halte Transjakarta inilah yang membuat Endang terengah-engah. Aktivitas yang sama harus ia lakukan saat pulang kerja. Endang bukannya tak tahu penyebab sesak napasnya itu. Tiga tahun lalu, dokter mendiagnosisnya menderita penyempitan pembuluh darah pada jantung. Sejak saat itu, dokter memberinya obat, tapi ramuan kimia tersebut tak membuat napasnya lebih longgar.

Hingga akhirnya dokter menyarankan Endang memasang stent untuk melapangkan kembali jalan darahnya. Tahun lalu, cincin (stent) pun dipasang di pembuluh darahnya yang menyempit. Tapi, sebelum pemasangan, Todung Donald Aposan Silalahi, dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular yang menangani Endang, memberikan ekstrak kurkumin untuk mencegah radang setelah pemasangan cincin.

Pencegahan radang dilakukan agar pembuluh darah yang dipasangi stent tak mampet lagi. Setelah cincin dipasang, Endang mengaku bisa naik-turun tangga tanpa sesak napas. ”Sudah tidak ngos-ngosan,” ujarnya. Sebelumnya, perkara mampet setelah pemasangan cincin ini banyak dialami oleh pasien. Kala itu dokter masih menggunakan cincin generasi pertama dengan bahan metal telanjang (bare metal), yang mulai digunakan pada 1986.

Cincin jenis ini membuat pembuluh darah melonggar, tapi beberapa bulan kemudian menyempit lagi. Penyebabnya, pembuluh darah mengalami inflamasi dan penumbuhan sel. Salah satunya karena reaksi tubuh terhadap benda asing. Seiring dengan berkembangnya teknologi, muncullah drug-eluting stent. Cincin ini juga terbuat dari metal, tapi bersalut obat, yang berfungsi menghentikan proses pertumbuhan sel dan inflamasi untuk mencegah penyempitan kembali.

Namun, tetap saja, kurang dari empat persen pasien mengalami penyumbatan lagi. Untuk mengatasi masalah penyumbatan kembali ini, Todung mencoba menggunakan kurkumin, senyawa aktif yang terdapat dalam kunyit dan temulawak. Penelitian disertasi itu mengantarkan Todung meraih gelar doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada awal tahun ini.

Penyempitan kembali, menurut Todung, salah satunya terjadi karena inflamasi akibat pembuluh darah merespons balon yang dikembangkan sebelum stent dipasang. Balon tersebut bertugas merenggangkan pembuluh darah yang sudah sempit. ”Ibarat bisul, kalau dipencet bisa menimbulkan reaksi radang. Demikian juga pembuluh darah,” ujar Todung, Senin pekan lalu.

Pembuluh darah yang dipasangi cincin juga mengalami stres oksidatif akibat luka pada pembuluh darah. Selain itu, stres ini memicu peradangan. Semakin hebat radang dan stres oksidatifnya, peluang penyumbatan pun semakin besar. Kurkumin sudah lama diketahui memiliki efek antiradang. Senyawa ini juga memiliki kandungan antioksidan yang mampu menekan stres oksidatif, menyeimbangkan kadar kolesterol, dan mencegah lengket sehingga efeknya mirip obat pengencer darah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *